Senin, 03 Oktober 2011

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEENGANAN
AKSEPTOR KB UNTUK MENGGUNAKAN ALAT KONTRASEPSI IUD
DI PUSKESMAS GOWA 2011

Hal : kuesioner penelitian
Kepada
Yth. Ibu Pengguna Kontrasepsi non IUD
Dengan hormat,
Sehubungan dengan penelitian kami yang berkaitan dengan penggunaan KB IUD pada peserta KB non IUD, maka dengan ini kami mohon kesediaan dan bantuan Ibu untuk dapat menjawab/ mengisi kuesioner berikut ini.
Kami melakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui pengetahuan, persepsi biaya, persepsi rasa aman, persepsi nilai, persepsi informasi tentang KB IUD, dan persepsi kualitas pelayanan KB pada peserta KB non IUD di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. Untuk menjaga kerahasiaan, Ibu dapat Mengisi atau tidak mengisi identitas nama pada lembar jawaban yang ada. Kami mengharapkan kesediaan ibu untuk mengisi/menjawab dengan jujur semua pertanyaan didalam kuesioner
tersebut. Atas kesediaan dan bantuan Ibu kami ucapkan terima kasih.
Hormat saya ,
Suharni Supu













Tanggal wawancara
No. Responden
Jenis KB
A. KARAKTERISTIK RESPONDEN
Nama
.................................
Tanggal lahir / Umur ............./............tahun
Pendidikan terakhir
1. SD
2. SLTP
3. SLTA
4. D1 - D3
5. D4 - S1
6. S2
Pekerjaan
1. PNS / TNI / Polri
2. Pegawai swasta
3. Wiraswasta
4. buruh tani/nelayan
5. ibu rumah tangga
6. tidak bekerja
Pendapatan/bulan Rp ................................................

Petunjuk Pengisian :
Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan pengetahuan ibu dengan memberikan tanda () pada kolom Benar (B) / Salah (S).
B. PENGETAHUAN TENTANG KB IUD
1. Sepengetahuan ibu, apakah alat kontrasepsi IUD itu ?
a. IUD termasuk alat kontrasepsi jangka panjang
b. IUD termasuk alat kontrasepsi yang tidak mempengaruhi hormon
2. a. Alat kontrasepsi IUD ada yang berbentuk seperti huruf T
b. Alkon IUD ada yang berbentuk seperti huruf S
3. a. IUD mencegah kehamilan dengan cara mencegah sperma dan sel telur bertemu
b. IUD mencegah kehamilan dengan cara membunuh hasil pembuahan.
4. Keuntungan memakai IUD :
a. Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi pil
b. Tidak membuat gemuk dan pusing
c. Mengurangi kunjungan ke klinik, dokter / bidan
d. Dapat dipasang segera setelah melahirkan
e. Hanya perlu satu kali pasang untuk jangka waktu yang lama
f. IUD tidak sebabkan bayi cacat
5. Berikut ini adalah kelemahan peggunaan IUD ?
a. Haid menjadi lebih lama dan banyak, saat haid lebih sakit.
b. Sebelum IUD dipasang, perlu pemeriksaan rahim terlebih dahulu
c. IUD dapat keluar sendiri dari rahim
d. IUD dapat berjalan-jalan sendiri dalam perut
e. Harus sering memeriksakan posisi benang IUD
f. Jika IUD dilepas tidak dapat langsung punya anak
g. IUD tidak aman bagi ibu yang sedang mengkonsumsi obat-obat tertentu
h. Dapat mengganggu pemberian ASI
i. Tidak dapat mencegah penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS
6. Waktu penggunaan IUD :
a. < 1 tahun
b. 2 – 10 tahun
7. Waktu yang tepat untuk memasang IUD adalah
a. Waktu haid sedang berlangsung
b. Setelah menstruasi selesai
c. Setelah melahirkan
8. IUD harus dikontrol / diperiksa pada waktu :
a. Satu bulan setelah pasang IUD
b. Tiga bulan setelah kontrol pertama
c. Setiap 6 bulan berikutnya
d. Bila ada perdarahan atau keluhan
9. Efek samping dari pemakaian IUD adalah :
a. Keputihan
b. Perdarahan lebih banyak dan lebih lama
pada masa menstruasi
c. IUD dapat menembus rahim
d. Dapat menyebabkan kehamilan diluarkandungan / hamil anggur
e. Keluar bercak-bercak darah setelah satu / dua hari pasang IUD
f. Infeksi
g. Nyeri selama menstruasi
Petunjuk Pengisian :
Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan pendapat ibu dengan memberikan
tanda (􀀹) pada kolom :
(1) Sangat Sesuai (SS)
(2) Sesuai (S)
(3) Kurang Sesuai (KS)
(4) Tidak Sesuai (TS)
C. PERSEPSI BIAYA KB IUD
Pernyataan Skala
No.
Persepsi Biaya KB IUD SS S KS TS
1. Biaya pelayanan KB IUD yang meliputi alat, pemasangan dan pencabutan adalah mahal
2. Biaya pelayanan KB IUD di bidan praktek mahal
3. Biaya pelayanan KB IUD di dokter praktek mahal
4. Biaya pelayanan KB IUD termasuk murah bila dibandingkan dengan lama pemakaiannya
D. PERSEPSI RASA AMAN TERHADAP KB IUD
Pernyataan Skala
No. Persepsi Rasa Aman
Terhadap KB IUD
SS S KS TS
1. Ibu merasa takut dengan cara pemasangan IUD
2. Ibu merasa takut menggunakan IUD karena setelah dipasang akan keluar bercak-bercak darah
3. Ibu merasa kuatir karena IUD dapat keluar sendiri jika ukuran IUD tidak cocok dengan ukuran rahim ibu
4. Ibu merasa takut menggunakan IUD karena saat haid darah menjadi lebih banyak dan lama
5. Ibu merasa takut menggunakan IUD karena dapat menyebabkan nyeri selama menstruasi
6. Ibu merasa takut menggunakan IUD karena mendengar pengalaman teman/keluarga yang mengalami efek samping / keluhan karena menggunakan IUD
7. Jika IUD dilepas, tidak dapat segera punya anak
8. IUD dapat menyebabkan cacat pada bayi ketika IUD masih berada di rahim
9. IUD dapat menembus rahim
10. IUD dapat menembus tempat lain di dalam tubuh, misalnya perut.
E. PERSEPSI NILAI TENTANG KB IUD
Pernyataan Skala
No.
Persepsi Nilai tentang KB IUD SS S KS TS
1. Ibu merasa malu dengan cara pemasangan IUD yang harus memperlihatkan aurat (vagina)
2. Pemakaian IUD tidak sesuai dengan nilai dari agama yang ibu anut
3. Tokoh agama yang ibu anut tidak memperbolehkan menggunakan IUD sebagai
alat kontrasepsi
4. Ada beberapa tokoh masyarakat yang menyarankan untuk menggunakan KB IUD
5. Ada beberapa kader / petugas kesehatan yang menyarankan untuk menggunakan KB IUD
F. PERSEPSI INFORMASI KB IUD
Pernyataan Skala
No.
Persepsi Informasi KB IUD SS S KS TS
1. Di tempat pelayanan kontrasepsi yang ibu
gunakan (bidan/dokter/puskesmas) diberikan
informasi tentang KB IUD dengan lengkap
2. Di tempat pelayanan kontrasepsi yang ibu
gunakan, diberikan informasi tentang lama
penggunaan IUD dengan jelas
3. Di tempat pelayanan kontrasepsi yang ibu
gunakan diberikan informasi tentang jenis-jenis /
bentuk IUD dengan lengkap
4. Di tempat pelayanan kontrasepsi yang ibu
gunakan diberikan informasi tentang
keuntungan penggunaan IUD lengkap & jelas
5. Di tempat pelayanan kontrasepsi yang ibu
gunakan diberikan informasi tentang kelemahan
penggunaan IUD dengan lengkap dan jelas
6. Di tempat pelayanan kontrasepsi yang ibu
gunakan diberikan informasi tentang efek
samping penggunaan IUD jelas
7. Ibu banyak mendapatkan informasi tentang KB
IUD dari majalah / tabloid / televisi
G. PERSEPSI KUALITAS PELAYANAN KB
Pernyataan Skala
No.
Persepsi Kualitas Pelayanan KB SS S KS TS
1. Di tempat pelayanan KB yang ibu gunakan
tersedia lengkap berbagai jenis KB termasuk
IUD
2. Ibu mendapatkan informasi dengan lengkap dan
jelas tentang metode-metode kontrasepsi dari
pemberi pelayanan KB
3. Petugas menanyakan status kehamilan dan
riwayat persalinan
4.
Petugas menanyakan apakah ada
permasalahan pada menstruasi
5. Petugas menanyakan riwayat penyakit ibu
6. Petugas menanyakan riwayat penyakit menular
seksual
7. Petugas menanyakan KB yang pernah
digunakan sebelumnya
8. Petugas menanyakan alasan berhenti pada KB
yang dipilih dulu
9. Petugas menyarankan beberapa metode KB
yang paling sesuai dengan kondisi ibu
10. Petugas mampu memberi pelayanan KB yang
sesuai dengan pilihan ibu
11. Penjelasan petugas tentang cara pakai alat KB
pilihan ibu mudah dipahami
12. Petugas memberikan informasi dengan jelas
keuntungan dan kerugian jenis KB pilihan ibu
13. Petugas memberikan informasi tentang efek
samping jenis KB pilihan ibu dengan jelas
14. Petugas menggunakan alat peraga / boklet
dalam memberi informasi tentang jenis-jenis KB
15. Petugas memberikan pelayanan KB dengan
trampil
16. Petugas memberikan pelayanan KB dengan
cepat dan tepat
17. Petugas memberitahukan kapan dan dimana
ibu dapat memperoleh persediaan KB pilihan
ibu
18. Petugas menjelaskan apa yang harus dilakukan
ibu jika mendapat masalah dalam pemakaian
alat KB yang dipilih
19. Petugas bersikap ramah dan murah senyum
20. Petugas bersikap sopan
21. Penjelasan petugas seputar masalah KB mudah
dimengerti oleh ibu
22. Petugas memberikan waktu konsultasi KB yang
cukup pada ibu
23. Petugas memberikan kesempatan yang cukup
pada ibu untuk bertanya
24. Petugas memberikan jawaban yang
memuaskan pada ibu

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Suharni Supu
NIM : DD. 0902 045
Jurusan : Kebidanan
Kampus : Akademi Kebidanan Syekh Yusuf Gowa Makassar
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa KTI yang penulis tulis ini merupakan benar-benar hasil karya penulis. Bukan merupakan pengambil alihan atau penciplakan tulisan atau hasil cipta karya orang lain yang penulis akui sebagai hasil tulisan atau pikiran penulis.
Apabila dikemudian hari terbukti atau dapat dibuktikan bahwa KTI ini hasil ciplakan maka penulis bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut.

Makassar, Oktober 2011
Yang membuat pernyataan


Peneliti

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. Standar Pelayanan Kebidanan. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta, 2001.
BKKBN. Kumpulan Data Program Keluarga Berencana Nasional. Jakarta,
2000
Tamasya, Ritola. Menuju Paradigma Baru KB. Warta Demografi 30/I.
Jakarta, 2006.
BKKBN. Rapat Kerja Program Keluarga Berencana Nasional Tahun 2008.
Jakarta, 2008.
Anonymous. Pengguna Kontrasepsi IUD di Wilayah Kerja Puskesmas
Tuladenggi Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. Diambil pada
tanggal 28 Januari 2009 dari http://puskesmasoke.
Bari Abdul S. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Edisi 2.
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2006.
EPO. (2008). Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau Intra Uterine Device
(IUD). Diambil dari http://pikas.bkkbn.go.id/jabar/program_detail.php?prgid=2
www. bkkbn. go. id, 2005
www.bkkbn.go.id,1998

BAB V

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Karakteristik responden yang diwawancarai secara terstruktur sebagian besar berusia dewasa muda yakni 18 – 40 tahun (76,4%), berpendidikan dasar (64,4%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (68,6%) dan memiliki pendapatan dibawah UMR (53,4%). Sedangkan karakteristik dari responden wawancara mendalam berusia antara 23 tahun sampai dengan 51 tahun dengan pendidikan tinggi 10 orang, pendidikan menengah sebanyak 5 orang, dan pendidikan dasar sebanyak 2 orang.
2. Peserta KB non IUD yang memiliki pengetahuan kurang baik tentang
KB IUD adalah sebesar 56,8%. Hal-hal yang perlu diperhatikan terkait
pengetahuan yang kurang baik tersebut adalah minat, keinginan dan
informasi yang kurang diberikan oleh tenaga kesehatan saat pertama
kali konsultasi.
3. Peserta KB non IUD yang memiliki persepsi terhadap biaya KB IUD
mahal adalah sebesar 53,4%. Hal ini terkait dengan faktor tingkat
pendidikan dan pendapatan responden yang mayoritas berpendidikan
dasar dan pendapatan di bawah UMR.
4. Peserta KB non IUD yang memiliki persepsi rasa kurang aman
terhadap KB IUD adalah sebesar 50,8%. Hal tersebut terbukti dari
banyaknya yang merasa takut dengan cara pemasangan, kelemahan
dan efek samping dari pemakaian IUD.
5. Peserta KB non IUD yang memiliki persepsi nilai kurang positif pada
penggunaan KB IUD adalah adanya perasaan malu terhadap cara
pemasangan IUD yakni sebesar 38,1%, sedangkan faktor nilai agama
dan sosial dipersepsikan positif oleh responden yang berarti adanya
dukungan penuh dari pihak-pihak terkait serta tidak adanya suatu
larangan apapun terhadap pemakaian IUD.
6. Peserta KB non IUD yang memiliki persepsi informasi tentang KB IUD
kurang cukup adalah sebesar 59,3%, terbukti dengan mayoritas
responden menilai kurang mendapatkan informasi tentang KB IUD dari
tempat pelayanan kontrasepsi yang dikunjungi. Responden tersebut
mengungkapkan bahwa informasi yang diberikan oleh tenaga
kesehatan hanya seputar kontrasepsi yang diinginkan dan diminta
klien.
7. Peserta KB non IUD yang berpersepsi terhadap kualitas pelayanan KB
baik adalah sebesar 55,9%. Hal tersebut dikarenakan tempat tujuan
pelayanan kontrasepsi ditentukan sendiri oleh responden berdasarkan
pertimbangan tertentu, dimana responden cenderung akan memilih
tempat pelayanan kontrasepsi yang paling dia suka.
B. Saran
Bagi Petugas Pemberi Pelayanan Kontrasepsi (Dokter & Bidan) :
1. Perlunya peningkatan pengetahuan tentang KB IUD bagi calon akseptor KB baru dan pasangannya, yang dapat dilakukan melalui pemberian informasi secara lengkap tentang KB IUD pada saat konsultasi pertama sebelum memutuskan memilih salah satu alat kontrasepsi tertentu.
2. Perlunya membangun informasi positif tentang KB IUD yang dapat dilakukan dengan melibatkan peran kader kesehatan melalui kegiatan penyuluhan dan penyebaran informasi tentang keberhasilan pemakaian KB IUD.
3. Perlunya membangun kesadaran kepada pasangan usia subur bahwa pemanfaatan alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD merupakan kebutuhan dan alternatif berkontrasepsi yang aman.
4. Perlunya meyakinkan kepada pasangan usia subur tentang segala kelemahan dan efek samping yang dapat timbul dari pemakaian IUD seperti perasaan kurang nyaman saat berhubungan dengan pasangan adalah sesuatu hal yang wajar dan dapat diatasi.
5. Perlunya peningkatan kesadaran dan komitmen dari petugas pemberi pelayanan kesehatan dalam melaksanakan tugas KIE dalam pelayanan kontrasepsi, sehingga diharapkan setiap tenaga kesehatan akan bersedia memberikan informasi lengkap tentang berbagai macam alat kontrasepsi termasuk IUD.
6. Perlunya peningkatan kesadaran dan komitmen dari petugas pemberi pelayanan kesehatan agar senantiasa memotivasi calon akseptor KB untuk memanfaatkan IUD sebagai salah satu pilihan kontrasepsi.
7. Perlunya penggunaan media bantu seperti leaflet, lembar balik, yang disertai dengan contoh-contoh alat kontrasepsi pada pelaksanaan konsultasi guna mempermudah pemahaman klien dalam hal pemilihan salah satu alat kontrasepsi.
8. Petugas pemberi pelayanan kontrasepsi diharapkan dapat memotivasi klien untuk tertarik menggunakan KB IUD dengan menerapkan system garansi pemakaian IUD kepada klien.
9. Petugas pemberi pelayanan kontrasepsi diharapkan dapat memberi kemudahan bagi klien yang kurang mampu dengan memberikan pelayanan kontrasepsi IUD secara cuma-cuma atau menggunakan sistem angsuran jasa pelayanan.
10. Perlunya keterlibatan yang lebih besar dari bidan dan dokter perempuan dalam setiap pelayanan KB IUD untuk menghindarkan adanya perasaan malu pada saat pemasangan IUD.
Bagi Pemerintah :
1. Perlunya peran aktif dari puskesmas dalam peningkatan jumlah akseptor KB IUD yang bisa dilakukan dengan pemberian penyuluhanpenyuluhan dengan tema kontrasepsi IUD, pemberian informasi lengkap tentang IUD saat kunjungan pertama klien untuk menentukan pilihan berkontrasepsi dan memotivasi setiap calon akseptor KB baru untuk menggunakan KB IUD.
2. Perlunya peningkatan peran pemerintah untuk menggalakkan program-program yang dapat mendorong dan memotivasi akseptor KB, seperti program yang memberikan pelayanan pemasangan KB IUD secara cuma-cuma.
3. Perlunya penambahan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) untuk difungsikan sebagaimana mestinya.
4. Perlunya peran pemerintah dalam menghidupkan kembali lembaga pemerintah yang menangani masalah keluarga berencana (BKKBN).
Bagi Peneliti lain :
1. Disarankan pada peneliti selanjutnya untuk lebih detail lagi dalam menyusun instrumen penelitian khususnya dalam memberikan alternatif jawaban bagi responden yang benar-benar tidak tahu akan pernyataan tersebut.
2. Disarankan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan analisa kuantitatif dari faktor pengetahuan, persepsi rasa aman, persepsi nilai dan informasi tentang KB IUD terhadap minat pemakaian KB IUD.

BAB III

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan metode cross sectional, yaitu penelitian yang mengganbarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kontrasepsi IUD di wilayah Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara.
B. Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah diwilayah kerja Puskesmas Banjarsari Kecamatan Metro Utara. Alasan pemilihan lokasi penelitian adalah belum adanya penelitian tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi kontrasepsi IUD di Wilayah Puskesmas Banjarsari Metro Utara.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2002). Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada diwilayah penelitian, maka penelitianya merupakan penelitian populasi.
Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemakai kontrasepsi IUD yang berada diwilayah Puskesmas Gowa dengan jumlah 34 jiwa.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian yang memiliki dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmodjo, 2002). Sampel penelitian ini menggunakan tekhnik simpel ramdom sampling dengan cara penganbilan sampel dari seluruh anggota populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu.
Untuk menentukan sampel pada penelitian ini maka digunakan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2002) dengan rumus sebagai berikut :



Keterangan :
N = Besar Populasi (seluruh akseptor KB)
n = Besar sampel
d = Tingkat kepercayaan / ketepatan (15%)
Dengan menggunakan rumus di atas dapat diambil jumlah sampel sebagai berikut:




D. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan pada bulan September 2011, dengan cara memberikan kuesioner pada akseptor IUD yang terpilih sebagai sampel, metode yang digunakan adalah wawancara.
a. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan menggunakan program komputer melalui langkah-langkah sebagai berikut :
1. Coding
Memberikan kode/bobot pada setiap jawaban dalam kuesioner yang di isi oleh responden untuk memudahkan dalam entry data.
2. Editing
Melakukan pemeriksaan pada setiap kuesioner yang di isi oleh responden untukn memastikan bahwa tidak da kesalahan dalam pengisian kuesioner.
3. Entry
Memastikan data yang mendapatkan melalui kuesioner yang di isi oleh responden kedalam program komputer.
4. Cleaning
Memeriksa kembali data yang ada diprogram komputer dalam bentuk tabel distribusi frekuensi untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan dalam entry data.
b. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan analisis bivarat.
Analisa Bivariat
Analisa bivarat dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen. Analisis yang digunakan adalah Chisquare. Dengan α : 5%
α : Tingkat kemaknaan

O : Frekuensi yang diamati
E : Frekuensi yang diharapkan
Ho : Hipotetis Nol
Hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan antara variabel satu dengan variabel yang lain.
Ha : Hipotesis alternatif
Hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara variabel satu dengan variabel lain.
Bila nilai perhitungan uji statistik lebih besar dibandingkan nilai yang berasal dari tabel (nilai perhitungan > nilai table) maka keputusannya : Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya ada hubungan antara variabel satu dengan yang lain

BAB II

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Puskesmas
1. Pengertian Puskesmas
Puskesmas adalah unit organisasi pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan promotive, preventif, kurative dan rehabilitatif secara terpadu, menyeluruh dan mudah dijangkau dalam suatu wilayah kerja Kecamatan/ sebagian di Kota Madya/Kabupaten.
2. Kegiatan Pokok Puskesmas
Sesuai dengan kemampuan tenaga maupun fasilitas yang berbeda-beda, maka kegiatan pokok yang dapat dilaksanakan oleh sebuah Puskesmas akan berbeda pula. Namun demikian kegiatan pokok Puskesmas yang seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. KIA
2. Keluarga Berencana (KB)
3. Usaha Peningkatan Gizi
4. Kesehatan Lingkungan
5. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
6. Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat Karena Kecelakaan
7. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
8. Kesehatan Sekolah
9. Kesehatan Olah Raga
10. Perawatan Kesehatan Masyarakat
11. Kesehatan Kerja
12. Kesehatan Gigi dan Mulut
13. Kesehatan Jiwa
14. Kesehatan Mata
15. Laboratorium Sederhana
16. Pencatatan dan Pelaporan dalam rangka Sistem Informasi Kesehatan
17. Kesehatan Usia Lanjut
18. Pembinaan Pengobatan Tradisional

Pelaksanaan kegiatan pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai satuan masyarakat terkecil. Puskesmas ditujukan untuk kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian dari masyarakat wilayah kerjanya (Depkes RI, 1992).
3. Fungsi Puskesmas
a. Sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat diwilayah kerjanya.
b. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
c. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat wilayah kerjanya.


B. Keluarga Berencana (KB)
1. Pengertian Keluarga Berencana (KB)
Keluarga Berencana Menurut BKKBN (1998) Artinya mengatur jumlah anak sesuai kehendak anda dan menentukan sendiri kapan anda ingin hamil atau salah satu usaha masalah kependudukan sekaligus merupakan bagian yang terpadu dalam program Pembangunan Nasional dan bertujuan untuk turut serta menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual, sosbud penduduk Indonesia agar dapat dicapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi Nasional.
Keluarga Berencana menurut WHO ( World Health Organisation ) adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami isteri untuk:
a. Mendapatkan objektif - objektif tertentu.
b. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan.
c. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan.
d. Mengatur interval di antara kelahiran.
e. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami isteri.
f. Menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Pelayanan KB diberikan di berbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun swasta dari tingkat desa hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat bervariasi. Pemberi layanan KB antara lain adalah Rumah Sakit, Puskesmas, dokter praktek swasta, bidan praktek swasta dan bidan desa. Jenis alat / obat kontrasepsi antara lain kondom, pil KB, suntik KB, IUD, implant, vasektomi, dan tubektomi. Untuk jenis pelayanan KB jenis kondom dapat diperoleh langsung dari apotek atau toko obat, pos layanan KB dan kader desa. Kontrasepsi suntik KB sering dilakukan oleh bidan dan dokter sedangkan kontrasepsi jenis, IUD, implant dan vasektomi / tubektomi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dan berkompeten.

2. Tujuan KB
Kebijakan Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui usaha penurunan tingkat kelahiran. Kebijakan KB ini bersama-sama dengan usaha-usaha pembangunan yang lain selanjutnya akan meningkatkan kesejahteraan keluarga. Upaya menurunkan tingkat kelahiran dilakukan dengan mengajak pasangan usia subur (PUS) untuk berkeluarga berencana. Sementara itu penduduk yang belum memasuki usia subur (Pra-PUS) diberikan pemahaman dan pengertian mengenai keluarga berencana. Untuk menunjang dan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan KB telah ditetapkan beberapa kebijakan, yaitu perluasan jangkauan, pembinaan terhadap peserta KB agar secara terus menerus memakai alat kontrasepsi, pelembagaan dan pembudayaan NKKBS serta peningkatan keterpaduan pelaksanaan keluarga berencana. Selanjutnya untuk mendukung pelaksanaan kebijakan tersebut terus dimantapkan usaha-usaha operasional dalam bentuk upaya pemerataan pelayanan KB, peningkatan kualitas baik tenaga, maupun sarana pelayanan KB, penggalangan kemandirian, peningkatan peran serta generasi muda, dan pemantapan pelaksanaan program di lapangan.

3. Visi dan Misi KB
Visi KB berdasarkan paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional adalah untuk mewujudkan ”Keluarga berkualitas tahun 2015”. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga yang sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggungjawab, harmonis dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Visi “Keluarga berkualitas 2015″ dijabarkan dalam salah satu misinya kedalam peningkatan kualitas pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi.

C. Kontrasepsi
Kontrasepsi Menurut Buku Petugas Fasilitas Pelayanan Keluarga Berencana (Depkes RI, 1999). Kontrasepsi berasal dari kata Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan Konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. . Jadi kontrasepsi adalah menghindari / mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut.
Kontrasepsi Menurut (Kapita Selekta Kedokteran 2001) adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap dan dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat/alat atau dengan operasi.
Menurut (Hanafi Winkjosastro 2002) Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.
Pada umumnya cara/ metode Kontrasepsi dapat dibagi menjadi 3 kategori:
1. Metode Sederhana
a. Tanpa alat/obat
 Sengama Terputus
 Pantang Berkala
b. Dengan Alat/Obat
 Kondom
 Diafragma atau Cup
 Cream, Yelly dan Cairan berbusa
 Tablet berbusa (Vaginal Tablet)
2. Metode Efektif
a. Pil KB
b. AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
c. Susuk KB
d. Metode Mantap dengan Cara Operasi(Kontrasepsi Mantap)
 Pada wanitaTubektomi
 Pada pria Vasektomi
(Depkes RI, 1999) Buku Petugas Fasilitas Pelayanan KB

D. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR / IUD

1. Pengertian IUD (Intra Uterine Device)
IUD adalah kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain (Cu T 380A atau ML Cu 250) yang dipasang didalam rahim dengan memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/paramedis lain yang sudah dilatih (Buku Petugas Fasilitas Pelayanan KB Depkes, RI 1999).
IUD merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari plastik halus, lembut dan lentur yang diletakkan dalam rongga rahim.
IUD (Intra Uterine Device) adalah rangka plastik kecil yang dipasang kedalam rahim lewat vagina (www. BKKBN.Go.id, 2005)
2. Jenis IUD
Macam-macam IUD menurut Hartanto (2003) yang dikategorikan menjadi 2 yaitu:
1. Un Medicated IUD
a. Lippes Loop
Diperkenalkan pada awal 1960an dan dianggap sebagai IUD standar, terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik) ditambah Barium Sulfat.
Ada empat macam IUD Lippes Loop yaitu Lippes Loop A, B, C, D
2. Medicated IUD
a. Cooper IUD
Yang paling dikenal sampai saat ini adalah CuT-380 A
b. IUD yang Mengandung Hormon
Progestasert – T = Alza T. Panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benang ekor warna hitam. Mengandung 38 mg Progesterone, dan Barium Sulfat melepaskan 65 mcg Progesterone per hari. Tabung inserternya berbentuk lengkung. Daya kerja 18 bulan.

3. Daya Guna
Daya guna IUD biasa (non medicated IUD) seperti Lippes Loop (ukuran D) dan cincin anti karat mempunyai angka kegagalan tinggi. Yaitu 2 sampai 6 untuk 100 wanita. Sebaliknya IUD tembaga ( Tcu 380 dan MLCu 375) yang mempunyai luas permakaian tembaga yang besar adalah IUD yang sangat efektif karena kegagalan tahun pertamanya hanya atau kurang dari 1. Angka kehamilan tahun pertama dan kumulatif dalam 8 tahun adalah 0,6 dan 2,3 untuk Copper T 380A. IUD dengan luas permukaan tembaga yang lebih kecil ( Tcu 200, Tcu 220, dan Tcu7) dan progestase ( IUD yang melepaskan progesterone) mempunyai angka kegagalan pertama 1 sampai 3 per 100 wanita (Hartanto, 2003)
4. Daya Tahan
Daya tahan IUD sekitar 3,5 sampai 8 tahun. Untuk jenis IUD yang mengandung hormon (progestasen- T) mempinyai daya tahan selama 18 bulan. Untuk IUD jenis Lippes Loop mempunyai daya kerja untuk selama- lamanya sampai menopause selama tidak menimbulkan masalah atau leluhan pemakaianya (Hartanto, 2003)
5. Cara Kerja IUD
IUD adalah suatu alat yang terbuat dari plastik yang biasa mengandung tembaga hormon steroid. IUD akan berada dalam uterus, bekerja terutama mencegah terjadinya pembuahan (fertilasi) dengan memblok bersatunya ovum dengan sperma, mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopi dan menginaktifkan sperma.
Mekanisme cara kerja yang pasti dari IUD belum diketahui. Ada beberapa mekanisme cara kerja IUD yang telah diajukan yaitu:
a. Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik didalam cavum uterik sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. Disamping itu, dengan munculnya leokosit, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa atau ovum dan blastocyst.
b. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
c. Gangguan atau terlepasnya blastocyst telah berimplantasi didalam endrometrium
d. Pergerakan ovum yang bertambah cepat didalam tuba fallopii
e. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri
f. Dari penelitian- penelitian terakhir, disangka bahwa IUD juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur.
g. Untuk IUD yang mengandung Cu :

1. Antogonisme kationic yang spesifik terhadap Zn yang terhadap dalam enzim carbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genetalia wanita diman Cu menghambat reaksi carbonic anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambat aktifitas alkali phosphatase.
2. Menganggu pengambilan esterogen endogenouse oleh mokosa uterus
3. Menganggu jumlah DNA (Deoksiribo Nukleat Acid) dalam endometrium
4. Menganggu metabolisme endogen



h. Untuk IUD yang mengandung hormon progesterone
1. Gangguan proses pematangan proliferatif-sekretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi.
2. Lendir selvik yang menjadi lebih kental atau tebal karena pengaruh progestin
(Hartanto, 2003)
Melihat urian diatas dapat disimpulkan bahwa mekanisme kerja IUD tidak mencegah ovulasi dan tidak mengganggu corpus luteum.

6. Efektifitas
1. Efektifitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuation rate) yaitu beberapa lama IUD tetap tinggal in-utero tanpa:
a. Ekspulsi spontan.
b. Terjadinya kehamilan.
c. Pengangkatan/ pengeluaran karena alasan- alasan medis atau pribadi.
2. Efektifitas dari bermacam- macam IUD tergantung pada:
a. IUD-nya yaitu ukuran, bentuk, mengandung Cu atau Progesterone.
b. Akseptor yaitu umur, paritas, frekuensi seggama
c. Dari faktor- faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan paritas, diketahui :
a. Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran IUD.
b. Makin muda usia, teritama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan/ pengeluaran IUD.
Dari uraian diatas, maka use- beffectiveness dari IUD tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi dan kemudahan aksepror untuk mendapatkan pertolongan medis. (Hartanto, 2003)
7. Keuntungan
Keuntungan- keuntungan IUD adalah sebagai berikut:
a. Sangat nefektif 0,6- 0,8 kehamilan / 100 perempuan dalam 1 tahun pertam (1 kegagalan dalam 125 – 170 kehamilan).
b. Efektif dengan potensi jangka panjang (sampai 8 tahun atau lebih) untuk Copper T 380 A.
c. IUD dapat efektif segera setelah pemasangan.
d. Tidak menganggu hubungan seksual suami istri.
e. Tidak dapat efek samping hormonal dengan Cu IUD.
f. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus.
g. Cocok untuk ibu- ibu yang sedang menyusui.
h. Dapat digunakan sampai masa menopouse.
i. Tidak ada interaksi dengan obat- obat.
j. Membantu mencegah kehamilan ektopik
( Saifudin, 2003).
8. Kerugian
IUD bukanlah alat kontarsepsi yang sempurna, sehingga masih terdapat beberapa kerugian, antara lain:
a. Pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi saluran genetalia diperlukan sebelum pemasangan IUD.
b. Dapat meningkatkan resiko penyakit radang panggul (RPP)
c. Memerlukan prosedur pencegahan infeksi sewaktu memasang dan mencabutnya
d. Bertambah darah haid dan rasa sakit selama beberapa bulan pertama pemakaian IUD.
e. Klien tidak dapat mencabut sendiri IUDnya.
f. Tidak dapat melindungi klien terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual), AIDS/HIV.
g. IUD dapat keluar rahim melalui kanalis hingga keluar vagina.
h. Bertambahnya resiko mendapat penyakit radang panggul pada pemakaian IUD
(Saifudin, 2003)
9. Kontra Indikasi
Kontra indikasi menurut Hartanto(2003) Kontra indikasi IUD terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Kontra-indikasi absolut;

1. Infeksi pelvis akut, termasuk persangkaan Gonorrhoe atau Chlamyda.
2. Kehamilan atau persangkaan kehamilan.
b. Kontra-indikasi relatif kuat ;
1. Partner seksual yang banyak
2. Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi komplikasi
3. Pernah mengalami infeksi pelvis atau infeksi pelvis yang rekuren, post-partum endometritis atau abortus febrilis dalam tiga bulan terakhir.
4. Cervicitis akut atau purulent.
5. Kelainan darah yang tidak diketahui sebabnya
6. Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik.
7. Pernah mengalami infeksi pelvis satu kali dan masih memungkinkan kehamilan selanjutnya.
8. Gangguan respon tubuh terhadap infeksi (AIDS, Diabetes Melitus, pengobatan dengan kortikosteroid dan lain-lain)
9. Kelainan pembekuaan darah.

c. Keadaan- keadaan lain yang dapat menyebabkan kontra indikasi untuk insersi IUD :
Penyakit katup jantung (Kemungkinan terjadi sub-akut bakterial endokarditis), keganasan endometrium atau serviks, stenosis servik yang sehat, uterus yang kecil sekali, endometriosis, myoma uteri, polip endometrium, kelainan kongenital uterus, dismenore yang hebat, darah haid yang banyak, haid yang ireguler, atau perdarahan bercak atau (spotting), alergi terhadap Cu atau penyakit Wilson yaitu penyakit gangguan Cu yang turun menurun,anemia, ketidakmampuan untuk mengetahui tanda-tanda bahaya IUD, ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri ekor IUD, riwayat Gonorge, Chlaimyda, Syphilis, atau Herpes, Actinomycosis genetalia, riwayat reaksi vaso-vagal yang berat atau pingsan, Inkompatibilitas golongan darah misalnya Rh negatif, pernah mengalami problem ekspulsi IUD, leukore atau infeksi vagina, riwayat infeksi pelvis, riwayat operasi pelvis, keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau pertimbangan kesuburan dimasa yang akan datang.
Sedangkan menurut (Wiknjosastro, 2002) terdapat beberapa kontra indikasi IUD antara lain :
Indikasi-kontra mutlak pemakaian IUD ialah kehamilan, penyakit radang panggul aktif atau rekuren, karsinoma servik, karsinoma korporis uteri Indikasi-kontra relatif lain ialah tumor ovarium, kelainan utrerus 9mioma, kanalis servikalis, dan sebagainya), Gonorgea, servisitis, kelainan haid, dismenore, stenosis kanalis servikalis.
10. Waktu Pemasangan IUD
Waktu pemasangan IUD menurut (Manuaba, 1998) menyatakan IUD dapat dipasang pada:bersamaan dengan menstruasi, segera setelah bersih menstruasi, pada masa akhir puerperium, tiga bulan pasca persalinan, bersamaan dengan seksio sesarea, bersamaan dengan abortus dan kuretage, hari kedua-ketiga pasva persalinan.
11. Periksa Ulang IUD
Pemerisaan ulang IUD menurut (Manuaba, 1998) menyatakan jadwal pemeriksaan ulang IUD sebagai berikut : 2 minggu setelah pemasangan, 1 bulan setelah pemeriksaan pertama, 3 bulan setelah pemeriksaan kedua, setiap 6 bulan sampai 1 tahun
12. Efek Samping
Kemungkinan terjadinya kehamilan, ekspulsi, dan beberapa efek samping hendaknya dijelaskan kepada pasien.
Ekspulsi biasanya terjadi pada 3-6 bulan pertama, yang dapat sebagian atau seluruh IUD. Ekspulsi dapat diketahui oleh pasien pada waktu memperhatikan darah haidnya. Pasien dapat pula diberi petunjuk cara meraba filamen sendiri sebelum senggama dan sesudah haid selesai.
Beberapa efek samping yang ringan ialah sebagai berikut:
1. Nyeri pada waktu pemasangan. Kalau nyeri sekali, dapat dilakukan anestesia paraservikal.
2. Kejang rahim, terutama pada bulan-bulan pertama. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan spasmolitikum atau pemakaian IUD lebih kecil ukurannya.
3. Nyeri pelvik. Pemberian spasmolitikum dapat mengurangi keluhan ini.
4. Semaput dapat terjadi pada pasien dengan prediposisi untuk keadaan ini. Dapat diberikan atropin sulfas sebelum pemasangan, untuk mengurangi frekuensi bradikardia dan refleks vasovagal.
5. Perdarahan diluar haid (spotting)
6. Darah haid lebih banyak (menoragia)
7. Sekret vagina lebih banyak.
Disamping itu pula terjadi efek samping yang lebih serius, walaupun jarang dan biasanya segera dikenal, yaitu sebagai berikut:
1. Perforasi uterus.
Dalam keadaan ini IUD harus dikeluarkan melalui laparoskopi, atau laparotomi. Hal ini lebig-lebih harus dilakukan kalau terjadi perforasi pada IUD tembaga, karena dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan dengan usus.
2. Infeksi Pelvik.
Infeksi yang ringan umumnya dapat diobati dengan antibiotika. Jika infeksinya berat, hendaknya dibuat biakan dan uji kepekaan dari daerah endoservuks. IUD itu harus dikeluarkan, dan antibiotika yang sesuai diberikan.
3. Endrometritis
Gejala dini endometritis denagn IUD ini ialah keputihan yang berbau, disparenia, metroragia, dan menoragia. Lebih lanjut dapat menjadi parametritis, pembentukan abses pelvik, dan peritonitis. Pemeriksaan bakteriologik dari endoserviks dan uterus harus dilakukan, dan IUD dikeluarkan. ( Wikjnjosastro, 2002)
13. Pencabutan IUD
IUD ( Intra Uterine Devices) dapat dibuka sebelum waktunya bila dijumpai :
1. Ingin hamil kembali
2. Leokorea, sulit diobati dan peserta menjadi kurus
3. Terjadi InfeksiTerjadi Perdarahan
4. Terjadi kehamilan mengandung bahan aktif dengan IUD.

E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Kontrasepsi IUD

1. Ekonomi
Ekonomi adalah sebuah kegiatan yang biasa menghasilkan uang. Ekonomi juga cakupan urusan keuangan rumah tangga (Depdiknas, 2002).
Tingkat ekonomi mempengaruhi pemilihan jenis kontrasepsi. Hal ini disebabkan karena untuk mendapatkan pelayanan kontrasepsi yang diperlukan akseptor harus menyediakan dana yang diperlukan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Ekonomi adalah ilmu mengenai azas-azas produksi, distribusi dan pemakaian barang-barang serta kekayaan, pemanfaatan uang, tenaga, waktu dan sebagainya yang berharga.
Penggolongan Masyarakat dalam stratifikasi berdasarkan dalam Stratifikasi berdasarkan status sosial ekonomi dibedakan 3 tingkatan yaitu: Upper class (Tingkat atas), Meddlo class (Tingkat Menengah), Lower class (Tingkat Bawah).
2. Usia
Usia adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan. (Depdiknakes, 2002). Usia yang dimaksud disini adalah usia akseptor KB. Usia mempengaruhi akseptor dalam penggunaan alat kontrasepsi. Dari faktor-faktor usia dapat ditentukan fase-fase. Usia kurang 20 tahun; fase menunda kehamilan, usia antara 20-30 tahun; fase menjarangkan kehamilan. Usia antara 30 tahun lebih; fase mengakhiri kehamilan. (Hartanto, 2002).
3. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang diteliti seseorang wanita (Kamus Besar Indonesia 1990). Berdasarkan pengertian tersebut maka paritas mempengaruhi pemilihan jenis alat kontrasepsi. Paritas yang diteliti adalah paritas 1-2, paritas 2-4, paritas > 4. Hal ini dikarenakan akseptor yaitu mempunyai anak lebih dari empat cenderung mengalami resiko tinggi persalinan. Apabila terjadi kehamilan tersebut digolongkan dalam kehamilan resiko tinggi (Wiknjosastro, 1999).
4. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2000). Sedangkan Menurut beberapa ahli salah satunya adalah Dictionory of Education Pendidikan adalah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh, mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (Dasar-Dasar Kependidikan Ihsan Fuad, 2005).
Adapun jenjang pendidikan akseptor yang diteliti :
a. Pendidikan Dasar (SD)
b. Pendidikan Menengah (SMP dan SMA)
c. Pendidikan Tinggi
Diseluruh dunia terdapat 6000 juta penduduk buta huruf, sekalipun mesin otak telah ditemukan 500 tahun yang lalu. Hampir dapat dipastikan kemampuan menyediakan fasilitas pendidikan semakin terbatas menyediakan fasilitas terbatas maka seharusnya jumlah yang memanfaatkan harus terkendali dengan jalan Keluarga Berencana.

BAB I

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan berbagai jenis masalah. Masalah utama yang dihadapi diIndonesia adalah dibidang kependudukan yang masih tingginya pertumbuhan penduduk. Keadaan penduduk yang demikian telah mempersulit usaha peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Semakin tinggi pertumbuhan penduduk semakin besar usaha yang dilakukan untuk mempertahankan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu Pemerintah terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan dengan Program Keluarga Berencana.
Program KB ini dirintis sejak tahun 1951 dan terus berkembang, sehingga pada tahun 1970 terbentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program ini salah satu tujuannya adalah penjarangan kehamilan mengunakan metode kontrasepsi dan menciptakan kesejahteraan ekonomi dan sosial bagi seluruh masyarakat melalui usaha-usaha perencanaan dan pengendalian penduduk.
Pendapat Malthus yang dikutip oleh Manuaba (1998) mengemukakan bahwa pertumbuhan dan kemampuan mengembangkan sumber daya alam laksana deret hitung, sedangkan pertumbuhan dan perkembangan manusia laksana deret ukur, sehingga pada suatu titik sumber daya alam tidak mampu menampung pertumbuhan manusia telah menjadi kenyataan.
Berdasarkan pendapat di atas, diharapkan setiap keluarga memperhatikan dan merencanakan jumlah keluarga yang diinginkan berkenaan dengan hal tersebut. Paradigma baru Program KB Nasional telah diubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi “Keluarga berkualitas 2015” untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas adalah keluarga sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, Harmonis, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sarwono, 2003 ).
Gerakan KB Nasional selama ini telah berhasil mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam membangun keluarga kecil yang makin mandiri. Keberhasilan ini mutlak harus diperhatikan bahkan terus ditingkatkan karena pencapaian tersebut belum merata. Sementara ini kegiatan Keluarga Berencana masih kurangnya dalam pengunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Bila dilihat dari cara pemakaian alat kontasepsi dapat dikatakan bahwa 51,21 % akseptor KB memilih Suntikan sebagai alat kontrasepsi, 40,02 % memilih Pil, 4,93 % memilih Implant 2,72 % memilih IUD dan lainnya 1,11 %. Pada umumnya masyarakat memilih metode non MKJP. Sehingga metode KB MKJP seperti Intra Uterine Devices (IUD). Implamt, Medis Operatif Pria (MOP) dan Medis Operatif Wanita (MOW) kurang diminati. (www. bkkbn. go. id, 2005).
Berdasarkan prasurvey di Puskesmas Gowa bahwa pengguna alat kontrasepsi Metode Kontrasepsi Jangka Panjang khususnya IUD dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor misalnya faktor tingkat ekonomi, usia, paritas, pendidikan. Pada umumnya PUS (Pasangan Usia Subur) yang telah menjadi akseptor KB lebih banyak menggunakan pil, suntik dan kondom. Namun pada akhir-akhir ini akseptor lebih dianjurkan untuk menggunakan program Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), yaitu alat kontrasepsi spiral (IUD), susuk (Implant) dan kontap (Vasektomi dan Tubektomi). Metode ini lebih ditekankan karena MKJP dianggap lebih efektif dan lebih mantap dibandingkan dengan alat kontrasepsi pil, kondom maupun suntikan(www.bkkbn.go.id,1998). Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian mengenai “Faktor-faktor yang mempengaruhi Keenganan Akseptor KB untuk Menggunakan Alat Kontrasepsi IUD ” .

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti merumuskan masalah sebagai berikut “Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Gowa 2011.

C. Pertanyaan Peneliti

1. Apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari?
2. Apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari ?
3. Apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD diPuskesmas Banjarsari?
4. Apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Banjarsari?

D. Tujuan

1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui apakah tingkat ekonomi berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
b. Untuk mengetahui apakah usia berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
c. Untuk mengetahui apakah paritas berpengaruh terhadap pemilihan kontrasepsi IUD.
d. Untuk mengetahui apakah pendidikan berpengaruh terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD.


E. Manfaat Penelitian

1. Bagi Puskesmas Gowa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan guna peningkatan pelayanan kontasepsi IUD demi terciptanya metode kontrasepsi efektif dan berjangka panjang.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya dalam memperbanyak referensi tentang alat kontrasepsi IUD dan sebagai acuan bagi peneliti selanjutnya.
3. Bagi akseptor IUD (Responden)
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi bagi masyarakat setempat untuk mengerti dan memahami tentang fungsi, manfaat, serta efektifitas kontrasepsi IUD sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi IUD semakin bertambah.
4. Bagi Peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman dan wawasan dalam penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapatkan selama kuliah.
5. Bagi Peneliti Lain
Agar dapat dijadikan masukan dalam penelitian serupa dan dapat lebih memperdalam penelitian yang sudah ada.
F. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Objek Penelitian : Faktor- faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD.
2. Subjek Penelitian : Seluruh akseptor KB di wilayah Pusksesmas Gowa
3. Lokasi Peneliti : Wilayah Puskesmas Gowa
4. Waktu Penelitian :
5. Jenis Penelitian : Studi Deskriptif dengan pendekatan cross sectional
6. Alasan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keenganan akseptor KB untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD di Puskesmas Gowa 2011